Tulisan ini lahir atas kegalauan saya yang bingung memilih antara ingin merutinkan puasa Senin-Kamis atau memulai puasa Nabi Daud..
Teman-teman saya ada beberapa yang puasa Daud, tapi ada pula yang terhenti ditengah jalan. Teman saya yang lain memilih puasa Senin-Kamis tanpa ragu, katanya “kan yg dicontohin Rasulullah puasa Senin-Kamis”, hmm.. betul juga.. Lalu sebagai bahan pertimbangan saya mulai mencari-cari keunggulan puasa yang satu dibanding yang lainnya.
Oya, sebelumnya, yang membuat saya galau sebenarnya hanya hal sepele, saya berpikir kalau puasa Senin-Kamis enak, banyak temennya, tapi kalo puasa Daud masih jarang temennya, tar kan aneh kalo puasa sendirian, apalagi kalo puasanya di hari-hari tertentu. Tapi saya berpikir kalo puasa Daud kan lebih sering, jadi pahalanya lebih banyak. Tapi saya juga takut kalo puasa Daud nantinya hanya semangat diawal, dan berhenti ditengah jalan. (ribet yee jalan pikirannya..)
Lalu saya mendapatkan sebuah artikel yang berisi tanya jawab tentang puasa seperti berikut:
Tanya : Tentang puasa sunnah Nabi Daud dan puasa Senin-Kamis. Saya sudah lama menjalani puasa Senin-Kamis. Dan akhir-akhir ini saya mulai belajar puasa Nabi Daud. Yang ingin saya tanyakan: lebih utama mana antara puasa Senin-Kamis yang merupakan sunnah Rasul dan puasa Nabi Daud?
Jawab : Kalau memang kuat melakukan puasa Daud, lakukanlah karena Nabi saw. memerintahkan puasa ini kepada umatnya yang ingin melakukan puasa 'dahr' (puasa sepanjang tahun). Namun Nabi melarang puasa 'dahr' ini karena ia tidak lebih baik dari pada puasanya Nabi Daud yang cuma separoh dahr: sehari puasa sehari berbuka. Anjuran ini khusus bagi orang-orang tertentu, yang mampu yang masih haus ibadah. Misalnya dia, setelah biasa puasa Senin-Kamis, tiga hari 'ayyamul bidh' (13, 14, dan 15 setiap bulan hijriyah), ternyata masih kuat lebih dari itu.
Dilarangnya 'puasa dahr' karena ditakutkan jika melakukan puasa ini orang akan melupakan kewajibannya atau mengabaikan hak orang lain, juga hak anggota tubuhnya sendiri. Maka puasa Daud adalah jalan tengah agar manusia tetap memperhatikan dunianya, bukan melulu akhirat. Keseimbangan dunia dan akhirat inilah yang diinginkan oleh Islam.
Tapi jika dengan melakukan puasa Daud ini kewajiban Saudara kepada orang lain-semisal istri-menjadi terbengkalai, sebaiknya Anda tidak melakukan puasa ini. Puasa ini sunnah sementara hak istri terhadap Anda adalah kewajiban. Dahulukan kewajiban dari sunnah.
Imam Bukhari meriwayatkan sebuah Hadis tentang puasa Daud ini yang artinya, "...puasalah sebaik-baik puasa, puasanya Daud! Dia berpuasa sehari dan berbuka sehari...".
Imam Muslim dalam kitabnya juga meriwayatkan sebuah Hadis yang artinya, "Puasa yang paling disukai Allah adalah puasanya Daud as.: ia berpuasa sehari dan berbuka sehari. Dan salat yang paling disukai Allah adalah salatnya Daud; ia tidur separoh malam, beribadah sepertiga malam, dan tidur lagi seperenamnya."
Utama mana antara Senin-Kamis dan Daud?
Dalam hal ini, persoalannya bukan sekedar amalan mana yang lebih utama, tapi lebih ke personal yang melakukannya: mampu atau tidak. Bagi orang yang mampu tentu ia lebih banyak memperoleh pahala. Seperti hadis Nabi saw. -riwayat Muslim- kepada Sayidah Aisyah "Pahalamu tergantung pada kesungguhanmu". (Hadis ini telah menjadi dasar terbentuknya sebuah kaidah fikih: "maa kaana aktsaru fi'lan kaana aktsaru fadhlan", artinya "Semakin sungguh-sungguh suatu ibadah dilakukan maka semakin besar fadhilah/pahalanya".) Kesungguhan di sini meliputi dua hal: kualitas dan kuantitas. Jadi semakin bagus kualitas dan kuantitasnya, semakin besar pahalanya.
Ya, seperti itulah jawaban yang saya dapatkan dari web pesantrenvirtual.com. Lalu, puasa mana yang akan saya pilih?hehe nantikan jawabannya..