Sabtu, 20 April 2013

Puasa Daud atau Senin-Kamis?


Tulisan ini lahir atas kegalauan saya yang bingung memilih antara ingin merutinkan puasa Senin-Kamis atau memulai puasa Nabi Daud..

Teman-teman saya ada beberapa yang puasa Daud, tapi ada pula yang terhenti ditengah jalan. Teman saya yang lain memilih puasa Senin-Kamis tanpa ragu, katanya “kan yg dicontohin Rasulullah puasa Senin-Kamis”, hmm.. betul juga.. Lalu sebagai bahan pertimbangan saya mulai mencari-cari keunggulan puasa yang satu dibanding yang lainnya.

Oya, sebelumnya, yang membuat saya galau sebenarnya hanya hal sepele, saya berpikir kalau puasa Senin-Kamis enak, banyak temennya, tapi kalo puasa Daud masih jarang temennya, tar kan aneh kalo puasa sendirian, apalagi kalo puasanya di hari-hari tertentu. Tapi saya berpikir kalo puasa Daud kan lebih sering, jadi pahalanya lebih banyak. Tapi saya juga takut kalo puasa Daud nantinya hanya semangat diawal, dan berhenti ditengah jalan. (ribet yee jalan pikirannya..)

Lalu saya mendapatkan sebuah artikel yang berisi tanya jawab tentang puasa seperti berikut:

Tanya : Tentang puasa sunnah Nabi Daud dan puasa Senin-Kamis. Saya sudah lama menjalani puasa Senin-Kamis. Dan akhir-akhir ini saya mulai belajar puasa Nabi Daud. Yang ingin saya tanyakan: lebih utama mana antara puasa Senin-Kamis yang merupakan sunnah Rasul dan puasa Nabi Daud?

Jawab : Kalau memang kuat melakukan puasa Daud, lakukanlah karena Nabi saw. memerintahkan puasa ini kepada umatnya yang ingin melakukan puasa 'dahr' (puasa sepanjang tahun). Namun Nabi melarang puasa 'dahr' ini karena ia tidak lebih baik dari pada puasanya Nabi Daud yang cuma separoh dahr: sehari puasa sehari berbuka. Anjuran ini khusus bagi orang-orang tertentu, yang mampu yang masih haus ibadah. Misalnya dia, setelah biasa puasa Senin-Kamis, tiga hari 'ayyamul bidh' (13, 14, dan 15 setiap bulan hijriyah), ternyata masih kuat lebih dari itu.

Dilarangnya 'puasa dahr' karena ditakutkan jika melakukan puasa ini orang akan melupakan kewajibannya atau mengabaikan hak orang lain, juga hak anggota tubuhnya sendiri. Maka puasa Daud adalah jalan tengah agar manusia tetap memperhatikan dunianya, bukan melulu akhirat. Keseimbangan dunia dan akhirat inilah yang diinginkan oleh Islam.

Tapi jika dengan melakukan puasa Daud ini kewajiban Saudara kepada orang lain-semisal istri-menjadi terbengkalai, sebaiknya Anda tidak melakukan puasa ini. Puasa ini sunnah sementara hak istri terhadap Anda adalah kewajiban. Dahulukan kewajiban dari sunnah.

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah Hadis tentang puasa Daud ini yang artinya, "...puasalah sebaik-baik puasa, puasanya Daud! Dia berpuasa sehari dan berbuka sehari...".

Imam Muslim dalam kitabnya juga meriwayatkan sebuah Hadis yang artinya, "Puasa yang paling disukai Allah adalah puasanya Daud as.: ia berpuasa sehari dan berbuka sehari. Dan salat yang paling disukai Allah adalah salatnya Daud; ia tidur separoh malam, beribadah sepertiga malam, dan tidur lagi seperenamnya."

Utama mana antara Senin-Kamis dan Daud?
Dalam hal ini, persoalannya bukan sekedar amalan mana yang lebih utama, tapi lebih ke personal yang melakukannya: mampu atau tidak. Bagi orang yang mampu tentu ia lebih banyak memperoleh pahala. Seperti hadis Nabi saw. -riwayat Muslim- kepada Sayidah Aisyah "Pahalamu tergantung pada kesungguhanmu". (Hadis ini telah menjadi dasar terbentuknya sebuah kaidah fikih: "maa kaana aktsaru fi'lan kaana aktsaru fadhlan", artinya "Semakin sungguh-sungguh suatu ibadah dilakukan maka semakin besar fadhilah/pahalanya".) Kesungguhan di sini meliputi dua hal: kualitas dan kuantitas. Jadi semakin bagus kualitas dan kuantitasnya, semakin besar pahalanya.

Ya, seperti itulah jawaban yang saya dapatkan dari web pesantrenvirtual.com. Lalu, puasa mana yang akan saya pilih?hehe nantikan jawabannya..

Kamis, 18 April 2013

Wisuda ODOA


Tulisan ini dibuat atas permintaan sahabat saya. Ya sebut saja namanya Ukhti Anis. Dia tidak bisa ikut menghadiri wisuda One Day One Ayat yang diselenggarakan oleh Ustadz Yusuf Mansur, makanya meminta saya menuliskannya.

Hari itu, Sabtu, 30 Maret 2013 saya sudah janjian dengan sahabat saya di Halte kampus, kami naik bis satu kali untuk menuju ke lokasi acara. Sampai sana orang sudah ramai dan banyak sekali bis-bis yang membawa rombongan dari seluruh Indonesia. Kami yang belum mempunyai tiket langsung mencari loket. Sempat bertanya-tanya ke orang sekitar barulah kami berhasil mendapatkan tiket.

Kami langsung memasuki GBK. Disana sedang ada acara hiburan dari Dwiki Darmawan orkestra. Lalu pembukaan acara oleh MC Dik Doank. Setelah itu sambutan dari ketua PPPA Darul Quran yaitu Ustadz Anwar Sani.

Selanjutnya yang paling ditunggu yaitu Syekh-Syekh dari timur tengah berjalan menuju panggung. Subhanallah.. Hati terasa bergetar.. Bahagia sekali bisa melihat imam-imam dari Mekkah, Madinah, Palestina, dan lain-lain secara langsung.

Lalu Ustadz YM meminta syekh Al-Ghamidi membaca surat An-Naba’, didengar oleh ribuan pengunjung wisuda ODOA. Seluruh peserta mendengarkan dengan khusyu’, terlebih lagi Ustadz YM yang menyimak sampai bercucuran airmata. Selanjutnya muroja’ah surat An-Naba’ per ayat dibimbing oleh Syekh Al-Ghamidi. Subhanallah.. saya merasa sangat bahagia bisa mendengar langsung Syekh Al-Ghamidi, selama ini hanya bisa mendengarnya dari mp3 murottal..

Yang paling tak bisa saya lupa adalah ketika Syekh Al-Ghamidi menyampaikan kata sambutan, lalu beliau mencium kening Ustadz YM, lalu ustadz YM minta ciumnya diulang karena yang pertama terhalang peci.hehe.. Lalu Syekh Al-Ghamidi berkata kepada seluruh peserta yang hadir “sampai jumpa di Jannah” aamiin.. aamiin ya Allah..

Separuh Jiwaku Pergi


Saya bukannya mau nyanyi lho.hehe ini lagi mau curhat.

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang sahabat saya yang akan menikah. Alhamdulillah acara pernikahannya sudah berlangsung beberapa hari yang lalu. Acara lancar, penuh khidmat, haru, serta meriah. Apalagi ketika diakhir acara sang mempelai pria mempersembahkan sebuah lagu berjudul “teman sejati” kepada mempelai wanita. So sweet..

Bukan itu yg akan saya ceritakan. Saya akan menceritakan,betapa takutnya saya kehilangan sahabat saya itu.

Kami mengenal sejak kelas 1 SMA, itu sekitar 8 tahun yang lalu. Sampai sekarang saya sangat dekat dengannya. Jadi ketika pagi hari saat akad nikah akan berlangsung, saya dilanda galau yang amat sangat. Saya takut kehilangan sahabat saya itu. Saya takut kita tidak bisa sedekat dulu. Berlebihan memang -_-‘ toh pada akhirnya, memang kita semua akan memulai hidup baru dengan orang-orang yang baru.

Acara pernikahan selesai, saya sms sahabat saya itu, hanya satu kata : legaaa.... Tapi sms saya tidak terkirim. Saya mulai berpikir, apa iya saya akan kehilangannya mulai detik ini juga? Lalu saya sms 2 sahabat saya yang lainnya. Ya ternyata sama, kami semua mulai merasa kehilangan. (tapi tetap sangat berbahagia atas pernikahan sahabat kami itu).

Satu sahabat memilih tetap memperlakukan dia sama seperti belum menikah, karena ia tidak siap kehilangan. Lalu saya dan satu sahabat lainnya memilih untuk tidak mengganggu masa-masa pengantin baru mereka. Biarlah ia yang menghubungi kami duluan.

Sahabat saya  itu, meski telah menemukan teman sejatinya, tapi tetap, kita semua adalah teman sehatinya..

Barokallah ukhti, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah..

Satu Bulan Satu Buku


Salah satu resolusi saya tahun ini adalah, setiap bulan saya harus membeli satu buku yang bagus. Tapi karena masalah keuangan (atau pelit?) hingga detik ini saya belum beli buku apapun. Bahkan saya melewatkan acara islamic bookfair yang setiap tahunnya selalu saya kunjungi.

Tapi alhamdulillah, secara tak sengaja saya menemukan buku bagus di perpustakaan kampus saya. Ini jarang sekali terjadi. Karena perpus dikampus saya itu besar, dan saya seringkali tidak bisa menemukan buku yang saya cari. Jadi sebuah keajaiban jika saya bisa menemukan buku bagus diperpus.

Buku yang pertama kali saya temui yaitu “the miracle of giving” dari Ustadz Yusuf Mansur.
Lalu seminggu selanjutnya saya sudah mulai mengerti cara mencari buku diperpus. (ya ampun telat banget ya saya..kemana aja selama ini -___-“)

Buku-buku yang saya temukan selanjutnya mulai beragam, ada novel dari Helvy Tiana Rosa, nonfiksi dari Asma Nadia, hingga biografi Chairul Tanjung.

Saya pikir hobi baru saya bolak-balik perpustakaan sangat bermanfaat, saya tetap bisa membaca, tidak perlu membeli pula.hehe

Kamis, 04 April 2013

Donor Darah


Seumur-umur, aku belum pernah donor darah. Bahkan niat saja tidak pernah, ngeri.hehe.. Tapi setelah melihat beberapa temanku yang mencoba donor darah, dan ada beberapa juga yang kecewa karena tidak bisa donor, aku jadi ingin mencobanya juga.

Hari ini, dikampusku ada acara donor darah keliling, aku yang penasaranpun langsung mendaftarkan diri. Antrinya panjaanng sekali. Disaat antri itulah temanku yang pernah donor darah menceritakan pengalamannya. Begini kira-kira percakapan kami:

T = Temanku, A = Aku

T:  Jarumnya besaar sekali..
A: Hah yang bener?
T: iya, terus tangan kita ditusuk, disedot deh darahnya sekantong
A: hah banyak amat? Ga lemes?
T: engga kok, tapi yang paling serem itu pas dicabut jarumnya.
A: emang gimana?
T: selangnya digunting, terus pas mereka mau ambil kapas, guntingnya dibiarin aja ngegantung disitu.
A: aaa serem amaaat... *mulai takut
T: terus jarumnya dicabut, langsung ngalir deh darah ketangan kita. Udah dikasih kapas masih ngalir aja..
A: aaa takuut.. ga jadi aja deh gw donornya ya?
T: tadi katanya pengen nyoba?
A: ga jadi ah, abis serem banget..
T: yaudah yang penting tes aja dulu..
A: *berdoa mudah-mudahan hasil tesnya ga memungkinkan untuk melakukan donor darah

Tibalah namaku dipanggil untuk melakukan tes. Setelah menimbang berat badan, hasilnya bisa. Aku mulai panik. Lalu tes HB, ternyata HB ku rendah sehingga tidak memungkinkan untuk donor. Diberi tahu seperti itu aku bukannya sedih malah langsung senyum dan teriak kearah teman-teman yang mengantarku.hehe

Mungkin nanti kalau aku sudah berani aku akan mencoba donor lagi. Insya Allah 

Sepatuku..


Kemarin sepatuku baru aja hilang. Itu satu-satunya sepatu yang aku bawa keruang sunyi. Jadi kalo sepatu ini hilang ya otomatis aku ga punya sepatu lagi. Mana saat itu aku sudah ditunggu temanku dikampus. Akhirnya aku beranikan diri minjem sepatu tetanggaku, walaupun agak kekecilan tapi tak apalah. Daripada aku harus nyeker?

Setelah itu aku pergi ke pasar terdekat untuk segera mencari sepatu pengganti. Itupun jalannya harus pelan-pelan karena takut sepatu tetangga yang aku pinjam ini jebol.hehe

Ukuran kakiku agak besar sehingga sulit mencari sepatu yang pas. Akhirnya aku beli saja yang ukuran 40, hanya itu yang masih bisa dipaksakan.

Kira-kira, siapa yang mengambil sepatuku ya?

Aku jadi teringat kisah cinderella, saat sebelah sepatunya hilang, ada pangeran datang membawakan sepatunya untuknya. Jadi kalo sepatuku kan hilangnya sepasang, berarti yang datang?? Hehehe....