Kamis, 21 Maret 2013

Ternyata Tak Mudah


Ketika memutuskan untuk tinggal di ruang sunyi, aku pikir ini akan mudah. Segalanya bisa aku tangani sendirian. Mau kekampus kapanpun, tinggal jalan sedikit. Mau makan, tinggal pilih dari sekian banyak penjual. Mau ini, mau itu, semua tersedia.

Aku lupa satu hal, semandiri apapun, kita tetap butuh orang lain. Aku yang tak pernah jauh dari orangtua, hari ini merasakan sangat ingin pulang.

Aku sakit, diare dan mual-mual, serta sindrom haid hari pertama membuatku tak berdaya diruang sunyi ini. Untuk pertama kalinya, aku menangis. Aku rindu ayah ibu. Walaupun jika dirumah, pasti yg pertama ayah lakukan ketika melihatku sakit adalah memarahiku, tapi aku rindu. Aku tau marahnya ayah itu tanda sayangnya. Lalu ibu, akan menceramahiku, tentang pola makanku, tentang aku yang jarang minum. Tapi setelah itu, ayah ibu akan mencarikan obat untukku. Atau sekedar mengusap punggungku. Atau membuatkan teh. Aku rindu.

Ternyata, ini tak mudah.

Tapi aku harus tetap bertahan disini, hingga tujuanku berhasil aku dapatkan.

Selasa, 05 Maret 2013

Selamat Jalan, Adikku..


Beberapa hari ini, suasana hatiku mendung. Entah kenapa merasa sedih sekali. Sedikit-sedikit menangis. Cengeng. Puncaknya tadi malam, ketika ayah dengan wajah sendu mengabarkan kepada kami, bahwa adik sepupu kami yang sudah lama sakit akhirnya dipanggil oleh Sang Pemilik Kehidupan. Serta merta airmata tumpah tak terbendung.

Namanya Andre, kami lebih sering memanggilnya ‘Aye’. Panggilan sayang. Usianya 8 tahun. Tapi ketegarannya menghadapi penyakit melebihi kami yang sudah dewasa ini. Allah memang selalu memberikan ujian sesuai kesanggupan hamba-Nya. Aye, dengan sakit yang begitu berat  –kata dokter kanker otak-  tak pernah mengeluh. Bahkan ketika akhirnya ia tak bisa melihat lagi. Pedih hati kami mengetahuinya. Tetapi ia, menangis saja tidak.

Kalau kami bertanya, “sakit, Ye?” ia akan menjawab, “sakit”. Sambil matanya menatap kelangit-langit kamar. “apanya yang sakit?”, “kepalanya”. Satu waktu kami melihat ia meringis-ringis, dan ketika ditanya ia akan menjawab “yang ini sakit sekali” itu artinya sakitnya benar-benar sakit. Jika aku yang merasakan itu, mungkin setiap hari aku menangis, menyusahkan semua orang..

Hal yang membuat kami semua terpana adalah, ketika ia tau penyakitnya parah, dan butuh biaya mahal, dia berkata pada ibunya, “bu, jangan pikirin biaya pengobatan aku, ga usahlah aku diobat. Kan mahal. Ibu simpan saja uangnya buat nanti melahirkan adik”. Hati siapa yang tidak tersayat mendengar anak sekecil itu berbicara begitu?

Aku bertemu kembali dengannya lebaran lalu. Aku sering mendengar kabar tentang penyakitnya. Tapi aku tidak menyangka kondisinya akan separah ini. Aye, yang dulu sempat tinggal dirumahku adalah seorang anak yang sangat lucu, lincah, kulitnya putih bersih. Sedangkan yang aku lihat didepanku saat mengunjunginya dikampung adalah, Aye yang kurus sekali, kepalanya agak sedikit membesar, duduknya tidak lagi tegak, harus disandarkan kesamping, atau dipangku, dan pandangan mata yang kosong menerawang.

Kami semua duduk melingkarinya, semua mata berkaca-kaca. Aku tak tahan untuk tidak meneteskan airmata. Tapi ia, yang sedang berbaring ditengah-tengah kami semua, malah sibuk bertanya-tanya banyak hal. Tentang Jakarta, tentang kisah-kisah kami. Wajahnya tetap ceria. Apalagi ketika ia mendapatkan beng-beng dan momogi, makanan kesukaannya yang sengaja ia titipkan kepada ayah. Lalu ia akan bertanya tentang ondel-ondel, tentang odong-odong. Lalu ia akan menyanyi sedikit dengan lirik yang ia ubah-ubah sendiri. Melucu, tapi membuat kami malah tambah ingin menangis. Tegarnya kamu, dik..

Sekarang, ia telah pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan kami semua, yang sangat menyayanginya. Menyisakan duka mendalam bagi keluarga besar. Aye, pasti sekarang sudah tenang kan, dik? Sudah ga sakit lagi kan? Sudah bisa bermain-main lagi disana. Selamat jalan adikku. Terima kasih atas segala pelajaran yang telah kamu berikan pada kakak. Allah menyayangimu, lebih dari rasa sayang kami padamu, dik.. istirahatlah dengan tenang di tidur panjangmu..

Minggu, 03 Maret 2013

Aku dan Ayah


Udah lama pengen cerita tentang ayah, tapi baru sempet sekarang.

Ayahku itu, dibilang pendiem ga juga. Dibilang cerewet ga juga. Dari sifatnya, aku bisa tau suasana hatinya. Kalo ayah lagi sering ngomong, itu berarti hati ayah lagi baik-baik aja, lagi bahagia. Tapi kalo ayah diem, diajak ngomong suka ga nyaut, itu berarti ayah lagi banyak pikiran. Dan lebih baik jangan deket-deket kalo ga mau kena imbasnya. Karena kalo lagi kaya gitu, kita bikin salah dikit aja, ayah bakal tambah marah.

Nah, sebagai anak yang paling sering dirumah. Aku lah yang paling sering bersama ayah. Jadi kalo ada hal-hal yang ayah ga suka, aku yang bakal kena marahnya walaupun bukan aku yang salah. Pernah ayah marah-marah panjang lebar karena STNK hilang, akulah yang kena dan aku harus bongkar seisi rumah buat nyari itu STNK, padahal aku megang STNK aja ga pernah. -___-“

Banyak hal-hal lucu ketika bersama ayah. Lagi-lagi, karena aku yang paling sering dirumah, maka aku yang paling sering nemenin ayah nonton TV. Acara favorit ayah itu bola, tinju, natgeo, dan sekarang lagi ikut-ikutan demam x-factor.

Waktu pertama kali pasang TV kabel, ayah nonton natgeo seharian. Ga boleh diganti. Jadi seharian aku ngeliatin macan nyari makan, berburu, mandi, tidur, ampun deh..  Akhirnya pas tidur malem aku sampe mimpi ketemu macan. -___-“

Itu masih mending. Acara favorit ayah selanjutnya adalah tinju. Tinjunya lain. Bukan kaya tinju di indonesia. Bahkan ini lebih parah daripada smackdown. Namanya UFC. Tinju ini bener-bener deh, parah banget. Orang berantem sampe mukanya berdarah-darah. Sampe ring tinjunya penuh darah, sampe mukanya mencong sana mencong sini. Dan aku yang ngeri sering banget tutup mata. Tapi lagi-lagi ayah akan teriak “ris itu liat tuu.. tuh. Ya ampuun.. liat tuh ris berdarah mukanya.. liat tuh idungnya gepeng” masya Allah.. terpaksalah aku nonton sambil tutup mata pake tangan, ngintip-ngintip dikit disela-sela jari.

Selanjutnya, acara bola. Ini aku harus nemenin dari mulai sampe abis. Apalagi kalo yang main itu semen padang, atau indonesia lawan luar negeri. Untungnya ayah ga suka bola-bola luar negeri yang kalo main itu bisa tengah malam atau pagi-pagi buta. Aku suka bola sedikit. Itupun kurang paham sama peraturannya. Aku cuma bisa nyautin kalo ayah nanya ini siapa itu siapa, itupun karena ada tulisannya. Aku juga bakalan heboh teriak gol kalo tim favorit ayah menjebol gawang, tapi aku bakalan pusing tujuh keliling kalo ayah udah nanya ini pelanggaran kan? Penalty kan? Atau apalah itu namanya yang kalo gol tapi ga jadi diitung karena satu hal. Ga ngerti.. ciyus deh..

Nah sekarang lagi demam x-factor. Ayahpun ikut-ikutan. Idolanya siapa lagi kalo bukan fatin. Kalo aku lagi nonton pasti ayah nanya fatin udah tampil belum? Dan kalau belum ayah akan nungguin. Atau kalau ayah lagi dikamar, trus denger fatin nyanyi, maka ayah akan lari keluar buat liat.

Tadi ada percakapan aneh sama ayah.
Ayah: ris, kalo satu grup keluar, semuanya keluar kan?
Irish: ya engga dong yah, kalo satu grup keluar, ya dia aja yang keluar sendiri.
Ayah: loh kan dia satu grup. Berati keluar semua dong?
Irish: ini kan grupnya ada 3 yah, jadi nanti kalo satu keluar, tinggal ada 2 grupnya..
Ayah: ya berati keluar semua kan?
Irish: ya engga. Misalnya nih, grup dalagita, kan dia berlima, kalo dalagita kalah, ya dia berlima pulang, tapi masih ada 2 grup lagi.
Ayah: yo itu mukasuik ayah. Bantuak antimun bungkuak. Alah panuah sakaruang tapi indak ado nan amuah mambali doh.
*irish bengong, mangap, kening berkerut. Ngomong opooo ayah -____-“

Ternyata maksud ayah emang begitu dari awal, cuma aku aja yang ga ngerti maksud pertanyaan ayah..

Sekarang, semenjak aku tinggal di ruang sunyi, aku jadi jarang nemenin ayah nonton. Tapi setiap aku pulang aku pasti temenin ayah.

Oya ada lagi. Ayah kemarin teriak-teriak manggil aku. Kirain mah ada apa. Aku sampe lari-lari kekamarnya. Ternyata mah mau minta di cabutin uban. Capedehh.. -____-“

Tetapi Ayah, bagaimanapun, seperti apapun, tetaplah ayah juara satu bagiku..