Beberapa hari ini, suasana hatiku mendung. Entah kenapa merasa sedih sekali. Sedikit-sedikit menangis. Cengeng. Puncaknya tadi malam, ketika ayah dengan wajah sendu mengabarkan kepada kami, bahwa adik sepupu kami yang sudah lama sakit akhirnya dipanggil oleh Sang Pemilik Kehidupan. Serta merta airmata tumpah tak terbendung.
Namanya Andre, kami lebih sering memanggilnya ‘Aye’. Panggilan sayang. Usianya 8 tahun. Tapi ketegarannya menghadapi penyakit melebihi kami yang sudah dewasa ini. Allah memang selalu memberikan ujian sesuai kesanggupan hamba-Nya. Aye, dengan sakit yang begitu berat –kata dokter kanker otak- tak pernah mengeluh. Bahkan ketika akhirnya ia tak bisa melihat lagi. Pedih hati kami mengetahuinya. Tetapi ia, menangis saja tidak.
Kalau kami bertanya, “sakit, Ye?” ia akan menjawab, “sakit”. Sambil matanya menatap kelangit-langit kamar. “apanya yang sakit?”, “kepalanya”. Satu waktu kami melihat ia meringis-ringis, dan ketika ditanya ia akan menjawab “yang ini sakit sekali” itu artinya sakitnya benar-benar sakit. Jika aku yang merasakan itu, mungkin setiap hari aku menangis, menyusahkan semua orang..
Hal yang membuat kami semua terpana adalah, ketika ia tau penyakitnya parah, dan butuh biaya mahal, dia berkata pada ibunya, “bu, jangan pikirin biaya pengobatan aku, ga usahlah aku diobat. Kan mahal. Ibu simpan saja uangnya buat nanti melahirkan adik”. Hati siapa yang tidak tersayat mendengar anak sekecil itu berbicara begitu?
Aku bertemu kembali dengannya lebaran lalu. Aku sering mendengar kabar tentang penyakitnya. Tapi aku tidak menyangka kondisinya akan separah ini. Aye, yang dulu sempat tinggal dirumahku adalah seorang anak yang sangat lucu, lincah, kulitnya putih bersih. Sedangkan yang aku lihat didepanku saat mengunjunginya dikampung adalah, Aye yang kurus sekali, kepalanya agak sedikit membesar, duduknya tidak lagi tegak, harus disandarkan kesamping, atau dipangku, dan pandangan mata yang kosong menerawang.
Kami semua duduk melingkarinya, semua mata berkaca-kaca. Aku tak tahan untuk tidak meneteskan airmata. Tapi ia, yang sedang berbaring ditengah-tengah kami semua, malah sibuk bertanya-tanya banyak hal. Tentang Jakarta, tentang kisah-kisah kami. Wajahnya tetap ceria. Apalagi ketika ia mendapatkan beng-beng dan momogi, makanan kesukaannya yang sengaja ia titipkan kepada ayah. Lalu ia akan bertanya tentang ondel-ondel, tentang odong-odong. Lalu ia akan menyanyi sedikit dengan lirik yang ia ubah-ubah sendiri. Melucu, tapi membuat kami malah tambah ingin menangis. Tegarnya kamu, dik..
Sekarang, ia telah pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan kami semua, yang sangat menyayanginya. Menyisakan duka mendalam bagi keluarga besar. Aye, pasti sekarang sudah tenang kan, dik? Sudah ga sakit lagi kan? Sudah bisa bermain-main lagi disana. Selamat jalan adikku. Terima kasih atas segala pelajaran yang telah kamu berikan pada kakak. Allah menyayangimu, lebih dari rasa sayang kami padamu, dik.. istirahatlah dengan tenang di tidur panjangmu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar