Jumat, 08 Februari 2013
Mengingat Mati
Hari libur Idul Adha kemarin saya dan keluarga pergi ke Sumedang untuk mengunjungi saudara saya. Kebetulan saudara saya itu punya toko di pasar (saya lupa nama pasarnya). Lalu dia meminta saya mencari tokonya yang bernama “dian colection”. Ketika sedang berputar-putar mencari toko saudara saya, saya kaget karena ada toko yang bernama “Toko Innalillahi”, pikiran saya waduh serem amat nama tokonya. Pas saya lihat ternyata itu toko khusus menjual perlengkapan kematian. Seperti kain kafan, bunga-bungaan, dll.
Beberapa minggu kemudian seorang sahabat mengirim SMS pada saya. Isinya : beli kain kafan yuuk... T.T saya gak begitu kaget dengan SMS itu, karena sejak melihat toko innalillahi itu saya juga sempat terpikir untuk beli kain kafan, tapi belum berani.hihi
Apa tujuannya beli kain kafan? Saya dan sahabat saya itu ternyata sependapat, tujuannya supaya setiap kita buka lemari, dan melihat kain kafan itu, kita jadi ingat mati. Dengan mengingat mati maka kita akan berusaha untuk mempersiapkan bekal sebaik-baiknya.
Saya jadi ingat, ada ibunya teman saya yang dirumahnya menyiapkan 4 kain batik panjang, (mereka sekeluarga ada 4 orang) kain batik itu yang biasa digunakan untuk menyelimuti jenazah. Katanya supaya kalau ada yg meninggal, tidak usah repot mencari-cari lagi.
Sampai sekarang, saya belum jadi beli kain kafan itu, entah mengapa masih ada perasaan takut untuk menyimpannya dirumah. Padahal kan itu hanya kain putih biasa. Tapi saya memilih menggunakan cara lain untuk mengingat mati, yaitu menulis disebuah kertas kata-kata yang mengingatkan tentang kematian, dan menempelkannya didinding kamar. Semoga dengan begitu kita senantiasa mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal. Aamiin..
Abdullah bin ‘Umar mengabarkan, “Aku sedang duduk bersama Rasulullah n tatkala datang seorang lelaki dari kalangan Anshar. Ia mengucapkan salam kepada Rasulullah, lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’ ‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’, tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab:
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا, أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ
“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 1384)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar