Hari itu, saya dan beberapa teman pergi untuk menghadiri acara lamaran seorang teman. Kami berangkat kesana naik bajay sambil dempet-dempetan. Sampai disana ternyata teman saya masih ada di salon, ciyee... hihi lalu kami duduk didalam rumahnya menanti kedatangannya. Tidak lama kemudian datanglah teman saya dengan tampilan yang berbeda, sangat cantik dengan nuansa biru-biru. Subhanallah..
Lalu kami mengobrol sebentar sambil menunggu acara dimulai. Kami yang penasaran dengan sosok lelaki pilihan teman saya mulai bertanya-tanya. Yang manakah lelaki itu?hehe lalu teman saya menyuruh saya mendokumentasikan acara tersebut, dan tertangkaplah sosok lelaki tersebut di kamera.hehe
Kami yang memang hobi mengobrol masih betah berada dirumah teman saya tersebut, lalu teman saya tersebut bercerita awal mula proses pertemuan ia dan sang calon. Yang saya masih ingat, dia bilang “Jangan takut untuk menentukan target, karena kita tidak tau kapan jodoh itu datang. Tahun lalu saya menentukan target untuk menikah tahun ini, padahal waktu itu jodoh belum terlihat tanda-tandanya sedikitpun.” Kami semua langsung mengucapkan kalimat tasbih. Diantara kami langsung heboh mulai menentukan target dan ada juga yang memajukan targetnya.hehe
Saat sedang asik-asiknya ngobrol, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Kami semua bersyukur karena hujan turun setelah acara sudah selesai. Sehingga tidak mengganggu jalannya acara. Lalu kami melihat diluar rumah air mulai menggenang. Saya tanya teman saya,apakah akan banjir? Teman saya bilang kalau hujan memang sudah biasa air menggenang seperti itu, tapi tidak akan tinggi. Ketika ketinggian air diluar rumah sudah melebihi mata kaki, hujan pun berhenti. Alhamdulillah..
Namun tak lama setelah itu, turun hujan yang lebih lebat lagi. Kami yang merasa yakin bahwa tidak akan banjir masih santai saja mengobrol diruang tamu. Hingga tiba-tiba kami sadar bahwa ketinggian air diluar rumah sudah sebetis. Kami langsung panik dan mulai membantu membereskan alat-alat yang masih berada dibawah. Kami semua memandang keluar rumah dan melihat air semakin meninggi. Lalu teman saya berinisiatif untuk mengevakuasi kami semua kerumah budenya yang berada diseberang rumahnya.
Ini yang paling menegangkan. Kami semua tidak pernah mengalami banjir, lalu sekarang harus terpaksa menyebrangi banjir. Para tetangga mulai berdatangan membantu mengevakuasi kami, ini lebay tapi benar-benar terjadi.
Ada sekitar 3 orang bapak-bapak yang datang membawakan dan memegangi payung untuk kami, lalu ada beberapa yang menjadi penunjuk jalan agar kami tidak terjeblos kedalam lubang. Saat itu air sudah melebihi lutut kami. Yang sudah bersiap-siap menggulung baju pun jadi percuma karena sudah basah duluan. Kami menyebrang dengan sangat hati-hati dengan perasaan yang sangat takut.
Setelah sampai dirumah budenya, kami pun merasa tenang dan mulai ngobrol-ngobrol dengan para tetangga. Lalu ada juga yang memotret-motret suasana banjir, sekaligus memotret dirinya sendiri.hihi
Setelah hujan berhenti kamipun langsung pulang tanpa berpamitan dengan teman kami karena ia masih berada didalam rumahnya. Dan tetap naik bajay.. Kejadian ini menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan bagi kami. Tamat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar